song

Loading...

Friday, April 29, 2011

Ishq



True Love
Ismail Fahmi | January 3, 2007 6:42 pm | Print

Seorang bijak  berkata kepadaku, “Anakku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?” Merasa diri ini memang belum faham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap kata hikmahnya yang menyemburat seperti cahaya.

Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap maksud cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu nanti, kerana setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak. Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap maksud cinta.

Lihat batang bunga mawar itu. Dia punya potensi untuk mempersembahkan bunga merah dan harum yang semerbak. Namun jika batang itu tak pernah ditanam, tak akan pernah mawar itu menghiasi kebunmu. Maka, hanya dengan membuka diri untuk tumbuhnya akar dan daun lah, batang mawar itu akan melahirkan bunga mawar yang harum. Demikian juga dengan hatimu, anakku. Kau harus membukanya, agar potensi cinta yang terkandung di dalamnya bisa merekah, lalu menyinari dunia sekitarmu dengan kedamaian.

Anakku, begitu sering kau bicara cinta. Cinta kepada isteri, cinta kepada anak, cinta kepada agama, cinta kepada bangsa, cinta kepada filosofi, cinta kepada rumah, cinta kepada kebenaran, cinta kepada Tuhan… Apakah isi atau maksud dari cintamu itu? Kau bilang itu cinta suci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, cinta sepenuh hati, cinta pertama, … Apakah benar begitu, anakku?


***

Mungkin di kampung kau punya seekor kuda. Begitu sayangnya kau pada kuda itu. Setiap hari kau beri makan, minum, kau rawat bulunya, kau bersihkan, kau ajak jalan-jalan. Seolah kuda itu telah menjadi sebahagian dari hidupmu, seperti saudaramu. Kau mencintai kuda itu sepenuh hati. Namun, suatu ketika datang orang yang ingin membelinya dengan harga yang menakjubkan. Hatimu goyah, dan kau pun menjualnya. Cintamu tidak sepenuh hati, kerana kau rela menjual cinta. Kau mencintai kuda, kerana kegagahannya membuatmu bangga dan selalu senang ketika menungganginya. Namun, ketika datang harta yang lebih memberikan kesenangan, kau berpaling. Kau cinta kerana kau mengharapkan sesuatu dari yang kau cintai. Kau cinta kudamu, kerana mengharapkan kegagahan. Cintamu berpaling kepada harta, kerana kau mengharapkan kekayaan. Ketika keadaan berubah, berubah pula cintamu.

Kau sudah punya isteri. Begitu besar cintamu kepadanya. Bahkan kau bilang, dia adalah pasangan sayapmu. Tak mampu kau terbang jika sayapmu patah atau cedera. Cintamu cinta sejati, sehidup semati. Namun, ketika kekasihmu sedang tak enak hati yang keseratus kali, kau enggan menghiburnya, kau biarkan dia dengan nestapanya kerana sudah biasa. Ketika dia sakit yang ke lima puluh kali, perhatianmu pun berkurang, tidak seperti ketika pertama kali kau bersamanya. Ketika dia berbuat salah yang ke sepuluh kali, kau pun menjadi mudah marah dan kesal. Tidak seperti pertama kali kau melihatnya, kau begitu pemaaf. Dan kelak ketika dia sudah keriput kulitnya, akan kau cari pengganti dengan alasan dia tak mampu mendukung perjuanganmu lagi? Kalau begitu, maka cintamu cinta berpengharapan. Kau mencintainya, kerana dia memberi kebahagiaan kepadamu. Kau mencintainya, kerana dia mampu mendukungmu. Ketika semua berubah, berubah pula cintamu.

Kau punya sahabat. Begitu sayangnya kau kepadanya. Sejak kecil kau bermain bersamanya, dan hingga dewasa kau dan dia masih saling membantu, melebihi saudara. Kau pun menyatakan bahwa dia sahabat sejatimu. Begitu besar sayangmu kepadanya, tak bisa digantikan oleh harta. Namun suatu ketika dia mengambil jalan hidup yang berbeda dengan keyakinanmu. Setengah mati kau berusaha menahannya. Namun dia terus melangkah, kerana dia yakin itulah jalannya. Akhirnya, bekal keyakinan dan imanmu menyatakan bahawa dia bukan sahabatmu, bukan saudaramu lagi. Dan perjalanan kalian sampai di situ. Kau mencintainya, kerana dia mencintaimu, sejalan denganmu. Kau mendukungnya, mendoakannya, membelanya, mengunjunginya, kerana dia seiman denganmu. Namun ketika dia berubah keyakinan, hilang sudah cintamu. Cintamu telah berubah.

Kau memegang teguh agamamu. Begitu besar cintamu kepada jalanmu. Kau beri makan fakir miskin, kau tolong anak yatim, tak pernah kau tinggalkan ibadahmu, dengan harapan kelak kau bisa bertemu Tuhanmu. Namun, suatu ketika orang lain menghina nabimu, dan kau pun marah dan membakar tanpa ampun. Apakah kau lupa bahawa jalanmu mengajak untuk mengutamakan cinta dan maaf? Dan jangankan orang lain yang menghina agamamu, saudaramu yang berbeda pemahaman saja engkau kafirkan, engkau jauhi, dan engkau halalkan darahnya. Bukankah Tuhanmu saja tetap cinta kepada makhlukNya yang seperti ini, meskipun mereka bersujud atau menghinaNya? Kau cinta kepada agamamu, tapi kau persepsikan cinta yang diajarkan oleh Tuhanmu dengan caramu sendiri.

Anakku, selama kau begitu kuat terikat kepada sesuatu dan memfokuskan cintamu pada sesuatu itu, selama itu pula kau tidak akan menemui maksud cinta sejati. Cintamu adalah Selfish Love, cinta yang mengharapkan, cinta kerana menguntungkanmu. Cinta yang akan luntur ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Dengan cinta seperti ini kau ibaratnya sedang menurap jalan. Kau tebarkan pasir di atas sebuah jalan untuk meninggikannya. Lalu kau keraskan dan kau lapisi atasnya dengan tar. Pada awalnya tampak bagus, kuat, dan nyaman dilewati. Setiap hari kendaraan melaluinya. Dan musim pun berubah, ketika hujan turun dengan derasnya, dan truk-truk besar melintasinya. Lapisannya mengelupas, dan lama-lama tampak lah lubang di atas jalan itu. Cinta yang bukan sejati, adalah cinta yang seperti ini, yang akan berubah ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Kau harus memahami hal ini, anakku.

***

Sekarang lihatlah, bagaimana Tuhanmu memberikan cintaNya. Dia mencintai setiap yang hidup, dengan cinta (rahman) yang sama, tidak membeda-bedakan. Manusia yang menyembahNya dan manusia yang menghinaNya, semua diberiNya kehidupan. KekuasaanNya ada di setiap yang hidup. Dia tidak meninggalkan makhlukNya, hanya karena si makhluk tidak lagi percaya kepadanya. Jika Dia hanya mencintai mereka yang menyembahNya saja, maka Dia namanya pilih kasih, Dia memberi cinta yang berharap, mencintai kerana disembah. Dia tidak begitu, dia tetap mencintai setiap ciptaanNya. Itulah True Love. Cinta yang tak pernah berubah, walau yang dicintai berubah. Itulah cinta kepunyaan Tuhan. Anakku, kau harus menyematkan cinta sejati ini dalam dirimu. Tanam bibitnya, pupuk agar subur, dan tebarkan bunga dan buahnya ke alam di sekitarmu.

Dan kau perlu tahu, anakku. Selama kau memfokuskan cintamu pada yang kau cintai, maka selama itu pula kau tak akan pernah bisa memiliki cinta sejati, True Love. Cinta sejati hanya kau rasakan, ketika kau melihat Dia dalam titik pusat setiap yang kau cintai. Ketika kau mencintai isterimu, bukan kecantikan dan kebaikan isterimu itu yang kau lihat, tapi yang kau lihat “Tuhanku! Ini ciptaanMu, sungguh cantiknya. Ini kebaikanMu yang kau sematkan dalam dirinya.” Ketika kau lihat saudaramu entah yang sejalan maupun yang berseberangan, kau lihat pancaran CahayaNya dalam diri mereka, yang tersembunyi dalam misteri jiwanya. Kau harus bisa melihat Dia, dalam setiap yang kau cintai, setiap yang kau lihat. Ketika kau melihat makanan, kau bilang “Ya Allah, ini makanan dariMu. Sungguh luar biasa!” Ketika kau melihat seekor kucing yang buruk rupa, kau melihat kehidupanNya yang wujud dalam diri kucing itu. Ketika kau mengikuti sebuah ajaran, kau lihat Dia yang berada dibalik ajaran itu, bukan ajaran itu yang berubah jadi berhalamu. Ketika kau melihat keyakinan lain, kau lihat Dia yang menciptakan keyakinan itu, dengan segala rahsia dan maksud yang kau belum mengerti.

Ketika kau bisa melihat Dia, kemanapun wajahmu memandang, saat itulah kau akan memancarkan cinta sejati kepada alam semesta. Cintamu tidak terikat dan terfokus pada yang kau pegang. Cintamu tak tertipu oleh baju filosofi, agama, isteri, dan harta benda yang kau cintai. Cintamu langsung melihat titik pusat dari segala filosofi, agama, isteri, dan harta benda, dimana Dia berada di titik pusat itu. Cintamu langsung melihat Dia.

Dan hanya Dia yang bisa memandang Dia. Kau harus memahami ini, anakku. Maka, dalam dirimu hanya ada Dia, hanya ada pancaran cahayaNya. Dirimu harus seperti bunga mawar yang merekah. Kerana hanya saat mawar merekahlah akan tampak kehindahan di dalamnya, dan tersebar bau wangi ke sekitarnya. Mawar yang tertutup, yang masih kuncup, ibarat cahaya yang masih tertutup oleh lapisan-lapisan jiwa. Apalagi mawar yang masih berupa batang, semakin jauh dari terpancarnya cahaya. Bukalah hatimu, mekarkan mawarmu.

Anakku, hanya jiwa yang telah berserah diri saja lah yang akan memancarkan cahayaNya. Sedangkan jiwa yang masih terlalu erat memegang segala yang dicintainya, akan menutup cahaya itu dengan berhala filosofi, agama, istri, dan harta benda. Lihat kembali, anakku, akan pengakuanmu bahwa kau telah berserah diri. Lihat baik-baik, teliti dengan saksama, apakah pengakuan itu hanya pengakuan sepihak darimu? Apakah Dia membenarkan pengakuanmu? Ketika kau bilang “Allahu Akbar,” apakah kau benar-benar sudah bisa melihat kebesaranNya Dia dalam setiap yang kau lihat? Jika kau masih erat mencintai berhala-berhalamu, maka sesungguhnya jalanmu menuju keberserahdirian masih panjang. Jalanmu menuju keber-Islam-an masih di depan. Kau masih harus membuka kebun bunga mawar yang terkunci rapat dalam hatimu. Dan hanya Dia-lah yang memegang kunci kebun itu. Mintalah kepadaNya untuk membukanya. Lalu, masuklah ke dalam taman mawarmu. Bersihkan rumput-rumput liar di sana, gemburkan tanah, sirami batang mawar, halau jauh-jauh ulat yang memakan daunnya. Kemudian, bersabarlah, bersyukurlah, dan bertawakkallah. InsyaAllah, suatu saat, jika kau melakukan ini semua, mawar itu akan berbunga, lalu merekah menyebarkan bau harum ke penjuru istana.

Semoga Allah membimbingmu, anakku.

***

Terimakasih, Bawa. Sungguh aku sampai tak melihatmu. Kulihat Dia yang tengah berbicara kepadaku.



Saturday, April 23, 2011

it's a small world



I could feel the wind blow again today And the sunshine warmest as before
I look to the charming moonlit And I see the beautiful sunset
But I still waiting to see the sunrise
I wish to go for calm destiny I closed my eye and look deeply
What I search for…
What are the different between us, my friend…
I’ve grown from the soil to human But she grows to beautiful plant
And we become best friend We cant talk directly As me a human and she is plant

But our soul does Even though I was human
But she always become the best in my eye And also a pigeon… white pigeon

The pigeon said… he sad Cause of prison that he must stay in
That make it beautiful wing Could not fly to the wide  sky…

That was very long … long time
I don’t want to see both of them Because I feel shy…
Im no longer like my self as before
If they see me like this…
(inao hiedeki)


Friday, April 22, 2011

hi

It just for you, be strong my dearest friend...

Must read…
Hi, Assalamualaikum. Welcome to my corner. Watashi Inao, to mooshimas, Doozo Yoroshiku. Nice to meet all of you. Have a nice day… ^_^.
There’s no special reason for this corner to appear front of your eye. But, just want to steal a single moment out of your busy life, and hope, Inao could make you (my friend…tomodachi smile)
Everybody would face their hardest time in life so as me. I want all my friend (who’s reading right now) to cheer up. I don’t want to see you sad.  Rose are red, Violet are blue, sugar is sweet and  your smile too.
Friend, did you know in this corner, I’ll share something that really worth in my life and maybe one day it’ll be worthwhile for you. I had choose you, cuz I trust you tomodachi. The fact is, all the thing I write in this blog, it was about many character that I create, the person they like, their hobbies,  their story, and one day I would gather, they all together… Inao Hiedeki, Yura Hiedeki, Qurratul Ain, Humaira Adawiyah… and many more characters that would appear. I’ve create this since I was in my secondary school, but stuck in my mind and book… okey, enjoy it… So all the thing in this blog, just a writing, but not about me… I am a dews of Macedonia, just call me Macedonia, the time will shows it self, and the dungeon of death would demise. Rather im a girl/boy/sister/brother/woman/man /uncle / untie / old man/ old woman, it depend on you. I’ll use many name. I just want all of you to open your mind, about the situation that surrounded the world, just listen the song here, to understand… Please use your leisure time, to listen to Quran and learn, there is not enough time for us, the death would come, and it would not wait us until we finish doing the thing that we like on the world. If you refuse my advise, wait and see you’ll regret in the judgement day.
Please, wake up. I learn so many thing, when read the book. Please read the book, and please not to read novel “love story” too much. It just a lies and fake, that make you forgot, about the truth, it will cover the truth, the truth is Endless Day, the world is fake and it would end, in just a while.  You have many thing to do, be the light for yourself and then for others. Please open your mind, because we believe in one God and Muhammad is a messenger, but we have different way in furu’ thing. Different country and different mazhab, but still our qiblat is masjidil haram, we preform our prayer 5 a day, fasting, zakah, believe in qada and qadar… but in our way, not too difference just a little bit… Please broad your mind and learn more.
What Imam Syafie say: When I learn more and more, I find that im stupid  (because there are many thing that he didn’t know)
"Semakin aku belajar, semakin terserlah kejahilanku"
ingatkan senang untuk menghasilkan karya yang agung. Rupa-rupanya tidak, sebab ilham dan inspirasi untuk menulis itu datang dan pergi. Jadi kenalah berkorban sedikit. Ilham itu akan datang bila-bila masa dan tanpa diduga, walaupun apa saja aktiviti kita waktu itu perlu ditinggalkan (kecuali solat) kalau boleh berjalan berjalanlah, kalau mampu berlari berlarilah untuk mencapai sebatang pena dan sehelai kertas kosong supaya dilakarkan keindahan yang tercipta di dalam buah fikiran.
I had never seen a person with such peace in her. She would go on her daily routine in a cheerful manner. Always with a ready smile for anyone that she met. But I know… She kept the big secret of her life within herself. About all the passages that she ever met until she became a person.
Socrates: " I know that I know nothing "